Amarah Si Ibu

Amarah Si Ibu
Amarah Si Ibu

Otakmu kau taruk mana, kau pikir mbetulin semua itu gampang, kau pikir bikin surat itu mudah, semudah beli cabe, tinggal bungkus beres!!, dasar ceroboh!!?

Suara itu terus bergema ditelingaku, aku yang sedari tadi bolak-balik dari kamar menuju pintu, naik tempat tidur, turun lagi, merasakan gelisah yang amat sangat membuatku bagai merasa bosan dewngan hidup ini. dua hari sudah dia seperti itu padaku.

memangnya dia siapa memaki-maki aku seperti itu, memangnya begitu parahkah kesalahanku hingga aku menerima semua ini?.

aku terus menggumam dalam hatiku sendiri, sembari melihat jam dinding kamarku yang terus berjalan dan suaranya sangat menyakitkanku, bukan karena dia melempar serpihan kaca ke arah wajah dan dadaku, tapi terlebih hati ini telah sakit oleh semua perkataannya.

Pagi itu, hari Sabtu, aku melakukan sebuah pengakuan yang mungkin sangat mengejutkannya, aku menghilangkan surat berharganya, aku ngga? sengaja menjatuhkannya dijalan, entah dimana jatuhnya, aku ngga sengaja membawanya dan lupa untuk menutup tasku, begitulah singkat ceritanya, tapi apa yang kudapat, dia memakiku hingga aku tak mampu mengalirkan darahku dari jantung kesemua pembuluhnya, aku ngga bisa mengajak mataku hanya untuk sekedar membasahi pupilnya, aku lemah, tekulai, menunduk, dan tak mampu menyuruh kakiku walau hanya untuk menggerakkan jari jemarinya.

Begitu dahsyatnya kata-kata yang menusuk hatiku yang paling dalam, rasanya hingga perih, sakit, merintih dan semuanya sangat sakit walau hanya sekedar untuk melintas di bayanganku.

mengapa dia ngga? kasih tau saja dengan baik-baik, meskipun aku tau aku yang salah dalam hal ini, tapi ngga? begitu dong cara ngasih tahunya?

pikiranku terus berontak melawan semua kata-katanya yang menyakitkan hatiku, sungguh terlalu dia berbuat seperti itu, tidakkah dia mau mendengarkan ceritaku barang sepatah kata pun, percuma juga aku menjelaskannya, tetap dia ?ngotot? dengan prinsipnya ?Jangan memancing emosiku, kalau kamu tak mau duniamu berubah jadi neraka? yang dia tau hanya umpatan, cacian, murka dan semua emosinya yang tersulut oleh wataknya yang memang sedikit tempramen.

ternyata memang benar adanya prinsip yang kupatenkan untuknya, dia begitu baik saat tak ada yang memancing emosinya, semua di beri, uang, makanan, semua yang dia punya tak satupun dia tak memberiku, tapi ketika Emosinya mulai tersulut dia akan terhanyut oleh amarah yang begitu besar, dan mungkin jika dia sebuah bara, badaipun tak mampu untuk memadamkannya, begitulah sosoknya yang sangat kukagumi sekaligus yang amat kutakuti.

sesekali aku melihat jam dinding bergambar ka?bah di kamarku, semakin detik, menit, berlalu hatiku semakin tak karuan, setiap detik kurasakan sangat menusuk hatiku, entahlah, mengapa aku begitu takut ketika pukul 05.00 sore akan datang menemui, dan terpaksa aku menatap wajahnya bak setan yang kelaparan, dan haus akan darah segar.

thin..thin..?, suara mobilnya yang memecahkan semua pikiranku tentangnya yang baru saja melintas.

kubukakan pintu untuknya, kusambut datangnya dengan senyum penuh dengan ?rahasia?, dan betapa kagetnya aku saat melihatnya membalas senyumanku dengan sangat lebar dan ramah, hatiku kembali berkecamuk, bertanya, ada apa sebenarnya ?

tadi pagi begitu menggebu semua emosinya, bak ombak besar yang menggulung lautan tak kenal ramah, bagai gunung yang memuntahkan laharnya tanpa melihat orang-orang yang damai olehnya, dan tanpa segan dia fasih memakiku.

pangilnya kepadaku, alangkah takutnya aku kepadamu wahai sang pemeluk emosi jiwa, aku tak berani menjawab, aku tak berani berkata untuk menjawab panggilnya, tapi kuberanika diri mendatanginya.

wanita itu duduk dengan daster yang adem, warnanya kalem, dan sedikit santai, tangannya terus menerus memegang kakinya, entah apa yang dia lakukan dengan kakinya, aku rasa itu kebiasaanya sedari dulu yang selalu ku awasi.

i..i..i..ya bu? ? jawabku tebata-bata.

Ma?afin aku ya Nyun?s, sungguh aku tak bermaksud melukai hatimu, aku tak bermaksud membuatmu tersiksa dirumah ini, dan aku tak pernah bermaksud untuk mencacimu seperti tadi, aku benar-benar emosi, aku kaget, aku spontan, aku rasa kamu tau sikapku selama ini bagaimana, kamu jauh lebih mengetahuinya dari pada diriku sendiri,?

entah apa yang kurasakan saat itu, hatiku lega, perasaanku terbuka, kegelisahanku sirna, kenapa wanita ini meminta maaf kepadaku, kuberanikan diri untuk mengangkat kepalaku memandang wajahnya dengan penuh rasa penasaran. mungkin dia tau maksudku, dia mengerti yang membuatku berani mengangkat kepalaku.

Aku sadar, barang itu tak bisa kembali, namun aku bisa membuatnya lagi, aku bisa mengurusnya lagi, memang ini ngga? mudah, sangat menyita waktu dan mungkin membosankan, tapi aku juga sadar Nyun?s, kehilanganmu juga akan membuatku susah, akan lebih membuatku tak nyaman, karena selama ini kamu sudah kuanggap sebagai sahabatku, sudah ku anggap sebagai pemelihara rumah ini dengan baik, dan engkau mampu mengerjakan semuanya dengan baik tanpa kuminta, itulah yang kusadari, dan itu akan sangat membuatku menyesal jika kamu yang akan pergi meningalkan rumah ini?.

aku hanya terdiam menatap tembok dengan tatapan kososng yang bermakna.

begitulah kata-katanya yang masih aku ingat dalam fikiranku saat ini, jam 08.00 malam kini, tapi masih kurasakan kebahagiaan dan kelegaan hati yang amat sangat.

Trimakasih bu.. Trimakasih telah memaafkan aku, dan aku berjanji aku tak akan ceroboh lagi, aku akan berhati-hati menjaga semua yang kau punya karena itu juga milikku, dan aku akan menjaga barang-barangku dengan baik?.

Sungguh wanita yang unik dengan dua kepribadian yang sama-sama ?Terlalu?, Terlalu baik, dan bisa terlalu sangat mengerikan.

Kini aku pun memeluk malamku dengan penuh kelegaan, setelah dua hari aku tak disapa dan hanya caci maki yang keluar dari mulutnya karena ?rasa itu?, kini semua telah usai sudah, dan aku berjanji dengan diriku sendiri, aku akan lebih waspada dan berhati-hati, sungguh aku tak ingin lagi menciptakan neraka untuk diriku sendiri, walau hanya dalam bayangan 🙂 .

ketika seseorang marah padamu, jangan lihat dia waktu marah, jangan fikirkan dia saat emosi, karena Emosi adalah bisikan setan sesaat tanpa pikir panjang, semua ?kata maut? itu dengan mudah muncul tanpa kesadaran yang penuh, lihatlah ketika dia sedang baik-baik saja, itu akan membuatmu lebih tenang 🙂 , mungkin ini pelajaran yang bisa aku dapetin dari kisahku, karena keburukan tak perlu difikirkan dengan keburukan, itu hanya akan membuat hati semakin panas 🙂 , dan ?sang pembakar amarah? akan bahagia melihatnya, mau seperti itu ?!?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*